Malam
telah larut ketika kami tiba di penginapan sederhana yang ada di ibu
kota propinsi. Walau sederhana kami tidak punya pilihan. Sopir bus tak
mungkin terus berkeliling mencari penginapan yang lebih baik lagi.
“
Mbak Febi sendirian saja, ya. Biar sisa kamar kami bagi bersama.” Ucap
Salim saat menemaniku melihat kamar yang akan kami tempati.
“ Kalo gitu, aku minta kamar yang kecil saja. Yang besar bisa kalian tempati rame-rame.”
Usulku itu disambut anggukan oleh Salim.
Satu
persatu barang-barang kami lalu diturunkan dari atas bus. Aku yang
terbiasa tugas dilapangan segera mencari tas ku dan siap untuk
mengangkatnya ketika sebuah tangan menahan gerakanku.
“
Biar aku saja, mbak.” Suara itu membuatku berbalik. Nampak Evan telah
memegang tali tas ku lalu membawanya menuju kamar. Dalam hati aku merasa
senang dan suprise dengan perhatian yang diberikan Evan. Aku makin
kagum dengan solidaritas karyawan kantor cabang yang baru aku tempati.
“
Letkkan disitu saja, Van. Makasih ya udah bawain tasku.” Kataku. Evan
masih berdiri di sisi meja rias. Dia mengamati sekeliling kamar. Aku
yang bingung hanya menatapnya. Dia lalu memeriksa colokan listrik, kabel
tivi, menyalakan kipas angin lalu memutar tivi. Keluhan terdengar dari
mulutnya saat siaran tivi tak jernih. Begitu juga dengan kipas angin.
Sejak di on kan, tidak berfungsi sama sekali.
“ Gimana sih ini kamar. Kok fasilitasnya amburadul begini? Ntar ya mbak, aku cari pemiliknya dulu.”
Evan
lalu keluar kamar. Aku sebenarnya tidak peduli dengan tivi atau dengan
kipas angin. Bagiku asal ada tempat untuk merebahkan badan, itu sudah
cukup. Terbiasa dilapangan membuatku tidak manja. Aku malah pernah tidak
mandi selama tiga hari karena daerah tempatku bertugas tidak ada air
bersih untuk mandi.
Tidak
lama kemudian Evan muncul dengan seorang anak muda. Dia membawa tivi
dan kipas angin. Tivi yang ada dikamarku dikeluarkan, begitu juga dengan
kipas anginnya. Benar saja. Saat tivi dinyalakan, gambarnya bagus.
Kipas angin juga mulai berfungsi.
“ Gimana, mbak? Udah nyaman kan? Kalo ada masalah, hubungi saya ya..”
Aku terkekeh. Gaya Evan sudah mirip pelayan hotel.
“ Iya, nanti aku hubungi.”
“
Ok, selamat beristrahat ya, mbak. Saya kekamar dulu.” Ucapnya dengan
senyum yang teramat manis. Aku takjub juga dengan sikap pemuda itu. Jika
mengingat kondisi hatinya yang sedang terluka, rasanya luar biasa dia
bisa tersenyum dengan sangat manisnya.
Aku
menutup pintu kamar lalu bersiap-siap untuk merebahkan badan. Tubuhku
benar-benar remuk setelah sehari semalam hanya duduk dalam bus. Saat
hampir terlelap, bunyi pesan singkat terdengar dari hapeku. Segera
kubuka, ternyata Rio yang mengirim pesan.
Udah dimana,sayang?kamu baik-baik saja kan?
Aku
tidak membalas pesannya tapi langsung menelpon. Rasanya rindu mendengar
suaranya. Lelah yang aku rasakan tiba-tiba menghilang berganti rasa
bahagia. Entah berapa lama kami saling melepas rindu, yang pasti saat
tersadar aku mendengar Adzan subuh dari mesjid. Rupanya karena kantuk,
aku langsung terlelap saat kami sedang berbincang. Aku lalu bangkit dari
pembaringan menuju kamar mandi untuk berwudhu. Bersiap-siap
melaksanakan sholat subuh.
****
Pagi
jam delapan tepat, rapat kecil kami adakan di kamar Salim. Aku sengaja
memilih kamar itu, karena dari beberapa kamar yang kami tempati hanya
kamar Salim yang paling luas.
“
Pagi semuanya, kita rileks saja ya, jangan terlalu tegang.” Kataku
sambil tersenyum. Wajah teman-teman tak lagi kuyu seperti semalam.
Mereka kini nampak segar setelah mandi pagi. Apalagi dengan hantaran teh
hangat dan kue dari pemilik penginapan. Makin ceria suasana pagi ini.
“
Ok, kita mulai saja, ya. Begini teman-teman, aku tadi sempat berdiskusi
dengan Salim. Ternyata ada kesalahan saat kita meeting di Makassar. Ada
beberapa wilayah yang ternyata tidak sama dengan peta yang kita lihat.
Karena itu pembagian kerja yang sudah di bentuk sebelumnya akan kita
ubah.”
“ Jadi gimana, mbak? Apa semua berubah?” Evi nampak cemas.
“
Tidak semuanya. Hanya wilayah yang sebelumnya kita perkirakan rutenya
mulus ternyata berdasarkan info dari Salim, ada beberapa yang tidak bisa
ditempuh dengan jalur darat alias kita hanya bisa mencapainya dengan
melewati laut. Karena itu bagian yang melewati laut, biar laki-laki saja
yang mengerjakan. Rika dan Evi bisa tukaran dengan, Damar dan Agus.
Dewi dan Mita tukaran dengan Farid dan Joko. Untuk yang lain aku kira
sudah pas. Tidak perlu lagi di ubah.”
Aku
menyebut nama Farid tanpa menyadari perubahan wajah Dewi. Aku baru
sadar beberapa menit kemudian ketika tanpa sengaja menatapnya. Wajahnya
yang semula dihiasi senyum dan tawa kini berubah sendu. Tapi aku tidak
mengerti mengapa dia terlihat murung.
“ Bagaimana? Ada masukan atau kalian semua setuju?”
Mereka serempak mengangguk. Kami kemudian berdiskusi untuk memantapkan kerja kami dilapangan.
Selesai menggelar rapat, aku kembali ke kamar ketika Evan mengikutiku dari belakang.
“ Mbak Febi, bisa minta tolong?” Panggilnya sementara aku membuka pintu kamarku.
“ Ada apa, van?” Evan masih berdiri di dekat pintu.
“ Apa saya bisa bareng mbak Febi ke lokasi?”
“ Maksud kamu, bareng ke lokasimu?”
“
Bukan. Seperti tugas-tugas sebelumnya kalau kami ke daerah, ada yang
bertugas menemani supervisor di lokasi. Biasanya ketua tim yang
menunjuk. Karena itu saya lebih dulu meminta izin sama mbak sebelum mas
Salim menunjuk orangnya.”
Aku
mulai mengerti maksud Evan tapi ini diluar kebiasaanku. Aku terbiasa
sendiri. Mendengarkan dia mengusulkan diri membuatku merasa aneh. Aku
lalu duduk di pembaringan. Kupandangi sikapnya yang terlihat tegang seperti harap-harap cemas menanti keputusanku.
“ Apa menurutmu Salim akan menunjuk orang lain?” Evan mengangguk cepat.
“ Biasanya mas Salim akan menunjuk Rama.”
“ Lalu mengapa sekarang kamu mencalonkan diri?”
Evan terdiam beberapa saat. Dia seperti bingung menjawab pertanyaanku.
“ Karena saya mau melindungi diri saya mbak.”
Aku tersenyum walau tidak mengerti. Rasanya lucu mendengar jawaban Evan.
“ Melindungi diri dari siapa? Apa ada orang yang mau mencelakai kamu?” tanyaku masih tetap tersenyum.
“
Melindungi diri dari amarah. Kalau bersama mbak, saya berharap bisa
lebih tenang. Sejak kita ngobrol di bus, saya merasa tenang. Saya takut
karena akhir-akhir ini emosi saya tidak stabil.”
“ Oke. Aku nggak pengen membahas ini lebih lama. Nanti saja kamu jelaskan masalah kamu. Jadi apa yang bisa aku bantu?”
“ Ehm..mbak Febi ngomong langsung ke mas Salim kalau mbak udah nunjuk saya jadi pendamping mbak di lokasi.”
Aku berdiri. Kudekati dan kutepuk pundaknya.
“
Kamu tenang saja, ya. Nanti aku sampaikan. Oh, ya berarti mulai
sekarang kita udah patner. Kamu bisa temani aku ke lokasi kan?”
Evan terlihat senang. Dengan cepat dia berlari menuju kamarnya sementara aku meraih tas dan jaket lalu keluar dari kamar. Setelah
menngunci pintu kamar aku melangkah menuju kamar Salim. Aku terpaku
sejenak saat kulihat Dewi masih berada di kamar Salim. Dia menoleh
sekilas melihatku.
“ Saya kekamar dulu, ya mas Salim, mbak Febi.” Pamitnya lalu lewat didepanku.
“
Apa aku tidak salah lihat, mas Salim? Kok Dewi kelihatan murung? Tadi
pagi sebelum rapat dia masih tertawa, kok sekarang jadi sendu begitu?”
tanyaku sambil melangkah masuk ke kamar Salim.
“
Biasa mbak. Pasangan jiwanya terlempar jauh. Dia maunya sama-sama
terus. Saya juga tadi kaget waktu mbak sebut nama Farid tapi saya setuju
kok. Biar ketenangan tercipta. Coba mbak bayangkan kalau setiap hari,
Evan melihat pemandangan yang membuat cemburunya sampai ke ubun-ubun.
Bisa terjadi perang saudara.”
“
Aku tadi bahkan nggak kepikiran ke sana. Oh, ya mas Salim..aku nunjuk
Evan ya jadi partnerku. Katanya yang biasa nunjuk, mas Salim.”
“ Oh, tidak apa-apa mbak. Mbak bisa nunjuk siapa saja.”
Evan
yang muncul di depan pintu membuatku berpaling. Tampilannya berubah.
Dengan jaket dan kacamata hitam dia terlihat lebih keren.
“ Sudah siap mbak?” tanyanya dengan semangat. Aku mengangguk lalu berdiri.
“
Aku kelokasi dulu, ya mas Salim. Kalau ada info penting, cepat hubungi
aku.” Kataku sebelum keluar dari kamar Salim. Di halaman depan kamar,
Evan sudah duduk manis di atas motor yang khusus kami sewa selama berada
di daerah ini.
“ Saya suka balap loh, mbak. Jangan segan-segan meluk saya kalau takut.”
“ Oh, ya kebetulan. Aku juga kalau naik motor selalu balap. Kita ketemu dong.”
Aku
tertawa lalu duduk di belakangnya. Kupasang helm yang diberikan Evan
padaku. Saat motor berjalan tanpa sengaja pandangan mataku bertemu
dengan Dewi yang kebetulan keluar dari kamarnya. Walau tersenyum,
tatapan matanya terlihat aneh. Mustahil dia cemburu, pikirku. Evan bukan
kekasihnya lagi. Tak ada alasan baginya untuk cemburu.
***
Motor
terus melaju di dalam kota. Siang hari pemandangan yang tampak sangat
berbeda. Aku baru bisa melihat dengan jelas, ternyata begitu banyak
penginapan yang kelihatan lebih menarik dari segi bangunan dari yang
kami tempati. Sayang sekali malam kemarin kami tidak punya kesempatan
untuk mencari yang lebih baik. Aku menyabarkan hati. Setidaknya lokasi
penginapan yang kami tempati sekarang jauh dari kebisingan. Alam
sekitarnya juga sangat asri. Ada aliran sungai yang menghadirkan
suara-suara indah khas pedesaan.
Semakin
lama jalan yang kami lalui mulai tidak mulus. Perbaikan jalan trans dan
jembatan membuat banyak kerikil dan pasir yang menyatu dengan tanah.
Jika tidak hati-hati, batu dan debu yang beterbangan bisa mencelakakan.
Terlebih saat kami melewati jalan tanah yang berlubang. Aku refleks
memegang pinggang Evan karena nyaris terjatuh.
“
Pegang saja pinggangku, mbak.” Teriak Evan. Walau risih aku akhirnya
tidak melepaskan peganganku pada pinggangnya. Perjalanan terasa sangat
melelahkan karena Evan tidak bebas untuk menjalankan motornya dengan
kecepatan penuh. Beberapa kali dia mengerem mendadak karena tiba-tiba
saja ada lubang yang meleset dari pandangannya.
“ Hati-hati, Van. Ini bukan jalan tol.” Kataku bercanda. Dia tertawa.
“ Nanti kita istrahat ya, mbak. Paling enak minum kelapa muda.”
“ Oh,ya. Dimana? Kamu tahu tempatnya?kan kamu baru disini?”
“ Mbak tenang saja. Banyak pohon kelapa berarti banyak kelapa muda.”
Kami
terus berbincang. Lumayan, agar kami melupakan jalan buruk yang kami
lalui. Tak terasa setelah satu jam setengah perjalanan kami akhirnya
tiba di lokasi. Lokasi perbukitan yang di sisi kanan nampak jurang
dengan latar laut yang indah. Aku terpaku di sisi jurang. Sinar mentari
yang menyengat tidak bisa mencegahku menatap keindahan di bawah sana.
Keindahan laut dengan pantulan cahaya matahari. Laut yang terdiri dari
warna biru. Beberapa lapisan nampak warna hijau. Berdasarkan info yang
pernah aku dapatkan. Warna hijau menandakan laut disekitarnya lebih
dalam.
“ Mbak Febi, kita keatas yuk?” Evan menarik tanganku mengikutinya. Dia membawaku naik ke perbukitan yang lebih tinggi.
“ Ayo!” tangannya bersiap meraih tanganku.
“
Untuk apa kesana?” tanyaku bingung. Aku masih berdiri di pinggir bukit.
Evan hanya tersenyum. Dia menarik tanganku dengan kuat hingga aku bisa
menyusulnya ke atas perbukitan.
“
Katanya mau makan kelapa muda? Ayo, tadi aku lihat disebelah sana ada
bapak lagi turunkan kelapa. Kita beli saja. Kalau diberi gratis ya
syukur.”
Benar
saja. Tidak jauh dari kami, nampak anak kecil sedang memungut kelapa.
Evan mendekati anak kecil itu, entah apa yang dia ucapkan. Anak kecil
itu mengangguk, lalu berteriak memanggil lelaki yang tengah memanjat
kelapa. Tidak lama, berjatuhan kelapa hijau. Anak itu berlari
memungutnya lalu menyerahkan sebutir kelapa dan sebilah parang pada
Evan.
Dengan
semangat Evan langsung mengupasnya. Hanya sedikit, dia hanya membuat
lubang kecil agar kami bisa meminum airnya. Aku gembira melihat isi
kelapa muda yang mengundang selera. Evan memberikan kelapa padaku. Kami
lalu bergantian minum air kelapa muda sambil tertawa.
“
Hati-hati bajumu, Van. Jangan terkena air kelapa, bisa meninggalkan
noda.” Aku mengingatkan. Tapi Evan terlanjur senang. Dia lalu membelah
kelapa. Isi kelapa yang tebal membuatku segera mencolek dengan tanganku.
“
Pake ini.” Evan memberi irisan kulit kelapa. Dia memperlihatkan contoh
agar aku bisa mengikutinya. Ternyata ada teknik alami untuk menyerut
isinya jika tak ada sendok.
“
Masih mau?” tanya Evan ketika sebutir kelapa telah kami habiskan
berdua. Aku mengangguk sambil tersenyum malu. Saat itulah jemari Evan
menyentuh ujung bibirku. Aku yang kaget hanya bisa terpaku. Kurasakan
seperti ada aliran listrik yang menyetrum seluruh tubuhku walau sekejap.
Sementara dia malah tersenyum seolah itu tindakan yang biasa.
“ Ada kelapa nempel di bibir, mbak.” Ucapnya lalu berdiri mendekati anak kecil itu lagi. Dia kembali dengan sebutir kelapa.
“ Sayang
sekali disini tidak ada sedotan ya,mbak. Coba kalo ada. Kita bisa
meminum air kelapa ini sama-sama. Romantis seperti di sinetron dan
filem-filem.” Aku hanya tertawa padahal dalam hati aku mulai
memperhatikan kelakuannya. Aku merasa sikap Evan mulai terasa aneh.
Sikapnya seolah-seolah aku ini adalah kekasihnya. Aku tidak ingin geer
tapi hatiku seperti membenarkan.
Setelah
puas menikmati kelapa muda. Kami akhirnya fokus ke pekerjaan. Saat
melangkah menuruni bukit, beberapa kali aku hampir terjatuh dan Evan
yang sigap menahan tubuhku. Jika saat kami berangkat tadi aku merasa
tenang, maka yang terjadi sekarang adalah rasa gugup yang kadang
membuatku salah tingkah. Jantungku entah mengapa berdegup sangat cepat.
Terutama ketika Evan menggenggam tanganku atau menyentuh bahuku.
Aku
berusaha mengembalikan sikapku yang normal, namun tetap saja gagal.
Sikap Evan yang melindungi dan begitu menjagaku membuatku tersanjung.
Sudah lama sekali aku tidak menerima perlakuan seperti itu. Mungkin
karena sikapku yang mandiri, jadi tak ada teman atau karyawan yang
berani bersikap seperti yang Evan lakukan.
Tapi
Evan memang berbeda. Walau aku menolak, dia dengan pandai membujukku.
Dan dengan sikapnya yang wajar hingga terlihat seperti hal yang biasa.
Entah mengapa aku akhirnya menikmati perhatiannya. Aku senang
diperlakukan seperti itu. Kami menikmati kebersamaan kami hingga sore
menjelang. Saat pulang aku tak ragu lagi memeluk pinggangnya. Bukan
karena aku yang menaruh tanganku, melainkan karena Evan yang menarik
tanganku hingga memeluk pinggangnya.
“
Begini lebih asyik. Boncengan kok seperti musuhan. Orang bakal mengira
kita pasangan yang mau cerai kalau jarak kita terlalu jauh.”
Kata-katanya membuatku terbahak.
“ Kamu bisa saja, Van. Pikiranmu kok sampai sejauh itu..hahahaha…”
Aku
terus tertawa hingga Evan menjalankan motor. Perjalanan pulang terasa
berbeda. Aku merasakan Evan sengaja memperlambat tempo kepulangan kami.
Dia menjalankan motor dengan perlahan sekalipun di jalan yang mulus.
“ Mbak, aku senang dan bahagia hari ini. Padahal ini
hari pertama kita bersama.” Ucapan Evan membuatku tersadar dari kantuk.
Kebiasaan buruk yang paling aku takuti adalah aku suka tertidur jika
sedang berboncengan. Aku pernah terjatuh dari motor karena tertidur.
“ Ehm..kenapa ?” tanyaku.
“ Aku merasa damai bersama mbak. Bagaimana kalau aku jatuh cinta sama mbak? Mbak mau kan menerimaku?”
Kata-kata yang meluncur cepat dari Evan membuat terdiam. Aku tidak bisa mencari balasan kata selain tersenyum.
“ Mbak? Mbak tidak merasa bahagia hari ini?” Aku mengangguk.
“ Aku bahagia. Jujur aku senang. Pertama kalinya aku benar-benar bahagia.”
Tiba-tiba
Evan menghentikan kendaraannya. Dia berbalik lalu mengecup keningku.
Semua berlangsung cepat hingga aku merasa seolah sedang bermimpi….
( Bersambung )
0 komentar:
Posting Komentar