Minggu, 08 April 2012

Pelangi Cinta ( 7 )

0

 
Di bandara aku memilih duduk berjauhan dengan Rio. Aku tidak ingin berbicara dengannya saat ini. Situasi hati kami sangat kacau. Jika memaksa diri untuk berbicara akan membuat keadaan semakin tegang. Kulihat dia juga sibuk dengan hapenya.
Dalam benakku hanya bayangan Evan yang melintas. Kupejamkan mata berusaha menahan bening air yang siap menetes. Semoga Evan bisa menerima kepergianku, pintaku. Kupandangi hape yang sengaja aku off kan. Rasa penasaran akan kabar Evan membuatku menekan tombol untuk mengangktifkan kembali.
“ Untuk apa?” tiba-tiba Rio meraih hape dalam genggamanku. Dia duduk di sampingku.
“ Untuk apa kamu aktifkan lagi? Biar dia bisa menghubungi kamu?” tanya Rio. Aku menatapnya dengan bayangan embun di mataku. Aku tak sanggup lagi. Sekarang makin terasa cinta dalam hatiku sebenarnya milik Evan.

“ Kamu kenapa sih? Apa aku tidak boleh mengucapkan kata perpisahan?” kataku marah. Kuraih kembali hape dalam genggamannya.
Rio tertawa namun kurasa sangat hambar.
“ Kata perpisahan?” katanya terbahak.
“ Apa kamu yakin? Yang aku lihat kamu malah bermaksud memintanya untuk bersabar. Iya, kan?” Aku tidak peduli dengan ocehannya. Segera ku tekan tombol namun dengan cepat Rio merampasnya kembali. Dia menaruh dalam saku jaketnya.
“ Jangan menyiksaku lagi! Kembalikan hapeku!” teriakku tertahan. Mendadak Rio mendekapku lalu menutup mulutku dengan tangannya. Aku beruhaha melepaskan diri.
“ Ini bandara. Apa kamu ingin kita jadi pusat perhatian orang-orang? Sadarlah kamu itu bukan anak kecil lagi. Apa kita harus bertengkar seperti anak kecil. Pikirmu aku tidak terluka? Jernihkan pikiranmu sekarang. Nanti di Jakarta kita bahas tentang rencana kita ke depan.”
Aku akhirnya memperhatikan sekeliling. Benar saja, orang-orang sedang memperhatikan kami. Perlahan Rio melepaskan dekapannya. Aku juga tidak lagi berkeras meminta hape kembali. Aku pasrah kini apapun yang akan terjadi. Kehilangan Rio dan Evan dalam waktu bersamaan mungkin saja terjadi. Tapi tak ada pilihan bagiku selain mengikuti kata-kata Rio.
**
Papa dan mama menatap kami dengan marah. Terutama mama karena tahu alasan perpisahan kami adalah kesalahanku.
“ Febi, kamu sadar sayang? Kamu udah 8 tahun berpacaran dengan Rio, mana mungkin hanya pertemuan beberapa minggu dengan anak buahmu kamu jadi berpaling. Tenangkan diri, pikiran dengan baik. Mungkin kamu hanya terbawa perasaan di lokasi.”
Suara mama bergetar menasehatiku. Papa disebelahnya ikut membenarkan. Sementara Rio hanya menunduk. Sejak mengucapkan kata-kata kami akan berpisah, Rio tak bersuara lagi. Dia menyerahkan semua ke papa dan mama.
“ Maafkan Febi, ma, pa. Tapi perasaan Febi saat ini seperti itu. Febi tidak ingin menyakiti hati papa dan mama juga Rio, tapi kenyataannya..Febi gak bisa melupakan Evan.” Aku menangis. Percuma menyimpan rasa saat ini. Lebih baik papa dan mama tahu perasaaanku yang sebenarnya.
Rio menatapku tajam sebelum menunduk lagi. Namun dari tangannya yang mengepal aku tahu dia sangat marah. Maafkan aku Rio, aku juga tidak menduga rasa padamu bisa lenyap seiiring kehadiran Evan di sisiku. Mungkin ini garis takdir kita. Aku juga tidak pernah merencanakan untuk berpaling dari hatimu.
Papa kulihat siap untuk berbicara. Aku pasrah dengan keputusan papa dan mama. Aku hanya ingin mereka tahu perasaanku. Menyimpannya sama saja dengan menunggu kehancuran rumah tanggaku. Apa jadinya rumah tangga kami jika bayangan Evan selalu hadir dan bermain dalam ingatanku?
“ Nak Rio, maafkan papa dan mama. Biar masalah ini kamu selesaikan dulu, ya. Tenangkan hatimu. Kami sangat menyesal dengan kejadian ini. Semoga nak Rio masih sudi untuk tetap menikahi Febi meski dengan kesalahan yang telah dia lakukan..”
Ucapan papa membuatku terhenyak.
“ Papa, Febi belum mau menikah..” protesku. Mata papa memerah.
“ Sekarang kamu masuk ke kamar. Bukan saat mu untuk berbicara. Sebagai orang tuamu, papa malu karena tidak bisa menjaga anak gadis papa sendiri. Masuk sekarang!” hardik papa. Aku berlari masuk ke kamarku. Seumur hidup baru kali ini aku mendengar suara papa memakiku, Sangat menyakitkan hati.
Aku menangis dalam kamar. Merasa tak ada seorangpun yang memahami membuatku terluka. Aku tersadar kalau hape ku masih disimpan Rio. Bergegas aku keluar kamar. Aku berlari saat kulihat Rio sedang melangkah menuju taksi. Ku lewati papa dan mama yang berdiri di teras.
“ Rio!” panggilku. Rio berbalik.
“ Hapeku.” Kataku. Rio merogoh saku jaketnya.
“ Benarkah tidak tersisa cinta dihatimu untukku sama sekali?” Rio menyerahkan hape.
Aku terdiam. Meski pahit aku terpaksa mengangguk.
“ Benar. Maafkan aku. Percuma meminta mama dan papa untuk menyelesaikan masalah kita. Aku harus jujur sebelum kita menikah dan sama-sama kecewa.”
Rio menghela nafas.
“ Baiklah, aku tahu keputusan apa yang kamu inginkan. Aku pergi dulu.”
Kupandangi taksi yang membawa Rio dengan rasa penasaran akan ucapannya sebelum berlalu. Apa maksudnya tahu keinginananku, pikirku bingung. Mungkin Rio akan melepaskan aku dan merelakan pernikahan kami batal. Semoga saja demikian, pintaku.
Saat kembali ke dalam rumah mama dan papa tak menegurku. Aku tahu mereka marah. Aku terus masuk ke dalam kamar dan menyalakan hape. Sayang sekali ketika aku mencoba menghubungi, hape Evan tidak aktif. Makin malam aku makin gelisah karena hape Evan tidak juga aktif.
Aku akhirnya menelpon Salim dan jawaban yang aku dapatkan membuatku makin sedih. Salim mengatakan kalau Evan ijin istrahat dulu dari lokasi. Dia ingin pulang untuk menjenguk orang tuanya di kampung. Aku tahu itu bukan alasan yang sebenarnya. Aku yakin Evan tidak akan membeberkan perasaannya pada Salim.
***
Dua hari berada di rumah namun aku hanya mengurung diri dalam kamar. Rasanya malas untuk keluar bahkan untuk makan sekalipun. Mbok Mina yang rajin mengantar makanan dan minuman ke kamarku. Dari beliau juga aku tahu kalau papa dan mama sudah berbicara dengan kedua orang tua Rio. Namun hasil pembicaraan itu belum jelas.
Benar saja malamnya, papa dan mama memanggilku. Di ruang tengah aku pasrah menerima keputusan mereka.
“ Orang tua Rio sudah menelpon papa. Cuma anehnya mereka meminta maaf karena harus memutuskan pertunangan kalian. Mereka minta maaf atas nama Rio karena sudah menyakiti hati keluarga kita. Sekarang kamu bisa lihat sendiri kan, Febi. Bagaimana baiknya nak Rio itu. Bahkan kesalahanmu rela dia tutupi dan mengaku jika dia yang melakukan kesalahan. Padahal jelas-jelas kita tahu kamu yang telah berpaling. Kamu masih berharap nak Rio berkorban apalagi?”
Aku tak menjawab. Dalam hati aku membenarkan ucapan papa. Rio terlalu baik jika mengingat akulah yang telah melukai hatinya. Dalam keadaan tersakiti, dia masih menjaga nama baikku dalam keluarganya.
“ Meski hubungan kalian telah berakhir, tapi papa dan mama masih berharap jika suatu saat kamu menyadari kekeliruanmu, kamu akan kembali pada nak Rio. Papa yakin, nak Rio akan menerimamu melihat kebaikannya sekarang ini. Wajar jika kamu melakukan kesalahan. Mungkin saat ini kamu belum tahu, namun seiring berjalannya waktu, banyak hal yang akan jadi pelajaran. Sekarang keputusan ada padamu. Masih tetap ingin bersama nak Rio atau ingin bersama Evan. Papa hanya ingin kamu bahagia.”
Ucapan papa membuatku lega. Aku tidak ingin membenarkan tindakanku saat ini namun aku juga tidak ingin menganggap ini sebuah kesalahan yang nanti akan aku sesali. Sekarang adalah sebuah kesempatan. Setidaknya aku sudah mengambil keputusan yang sesuai dengan hatiku. Jika suatu saat aku menyesal, maka itu adalah resiko yang harus aku ambil.
***
Akhirnya aku kembali bergabung dengan Salim dan teman-teman di lapangan. Rasa gembira kurasakan saat menginjak kaki di bandara. Perjalanan panjang menggunakan bus tak lagi aku rasakan. Bayangan lokasi kerja dan senyum Evan membias di mataku. Ternyata rasa yang hadir bukan semata rasa sesaat. Rasa itu hadir bahkan ketika aku bersama Rio. Aku tidak ingin kehilangan Evan meski dalam mimpi.
Tiba di penginapan tak seorangpun teman yang ada. Rupanya mereka masih berada di lokasi. Jantungku berdebar kencang saat melihat kamar Evan. Kerinduan untuk segera bertemu dengannya tak lagi dapat aku tahan. Menunggunya kembali terasa sangat lama. Jam yang berulangkali kuperhatikan seolah berhenti tak bergerak.
Aku melompat dari tempat tidur saat kudengar suara motor memasuki halaman penginapan. Kuintip lewat jendela, nampak Evan memarkir motornya. Debar jantungku makin kencang. Aku segera membuka pintu kamar, memandangnya melangkah menuju kamar. Evan yang berjalan membelakangiku tidak melihatku.
“ Evan!” panggilku penuh rasa rindu. Langkah Evan terhenti namun dia tidak segera berbalik. Agak ragu dia membalikkan badannya. Saat dia benar-benar telah membalikkan tubuhnya menghadapku, senyumnya mengembang sambil menatapku. Tatapannya seolah tak percaya.
“ Mbak Febi!” teriaknya lalu berlari mendekatiku.
“ Kapan datang? Kenapa tidak mengirim kabar kalau akan kembali?” Aku tak kuasa menjawab pertanyaannya. Genggaman tangannya yang hangat membuatku ingin menangis.
“ Aku kangen sama kamu.” Hanya itu yang mampu aku ucapkan. Airmataku menetes. Evan mengusap air mataku.
“ Saya juga, mbak. Mbak jangan khawatir. Saat mbak pergi tanpa pesan, saya yakin mbak telah memilih saya bukan mas Rio.” Aku menatapnya heran.
“ Darimana kamu tahu?”
“ Saya yakin mbak pergi bukan karena takut dengan mas Rio. Mbak pergi untuk menyelamatkan saya. Iya, kan? Karena kalau tetap di sini akan timbul masalah, dan itu tidak baik untuk saya. Mbak pasti sudah memikirkan matang-matang, tidak mungkin mbak takut kehilangan pekerjaan. Kehilangan mas Rio saja mbak sanggup, pasti ada susuatu yang memaksa mbak untuk pergi. Apa saya tterlalu percaya diri jika merasa mbak pergi karena memilih saya?”
Rasa gembira, sedih dan terharu menyatu dalam hatiku hingga aku hanya bisa mengangguk sambil tersenyum dengan airmata yang membasahi pipi.
“ Kamu benar..”
Tiba-tiba Evan menarik tanganku.
“ Ikut saya sayang, saya ingin menikmati sore ini berdua saja denganmu.” Ajaknya.
Kali ini aku melihat tatapan Evan sangat bahagia. Caranya memanggilku kini berbeda. Tak lagi ada kata mbak sebagai pelengkap namaku. Kami berkeliling menikmati keindahan laut di sore hari. Selintas membayang wajah Rio namun bayangan Evan kembali hadir, kini dia tak tergantikan. Semoga, harapku. **
TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar