Di
bandara aku memilih duduk berjauhan dengan Rio. Aku tidak ingin
berbicara dengannya saat ini. Situasi hati kami sangat kacau. Jika
memaksa diri untuk berbicara akan membuat keadaan semakin tegang.
Kulihat dia juga sibuk dengan hapenya.
Dalam
benakku hanya bayangan Evan yang melintas. Kupejamkan mata berusaha
menahan bening air yang siap menetes. Semoga Evan bisa menerima
kepergianku, pintaku. Kupandangi hape yang sengaja aku off kan. Rasa
penasaran akan kabar Evan membuatku menekan tombol untuk mengangktifkan
kembali.
“ Untuk apa?” tiba-tiba Rio meraih hape dalam genggamanku. Dia duduk di sampingku.
“
Untuk apa kamu aktifkan lagi? Biar dia bisa menghubungi kamu?” tanya
Rio. Aku menatapnya dengan bayangan embun di mataku. Aku tak sanggup
lagi. Sekarang makin terasa cinta dalam hatiku sebenarnya milik Evan.
“ Kamu kenapa sih? Apa aku tidak boleh mengucapkan kata perpisahan?” kataku marah. Kuraih kembali hape dalam genggamannya.
Rio tertawa namun kurasa sangat hambar.
“ Kata perpisahan?” katanya terbahak.
“
Apa kamu yakin? Yang aku lihat kamu malah bermaksud memintanya untuk
bersabar. Iya, kan?” Aku tidak peduli dengan ocehannya. Segera ku tekan
tombol namun dengan cepat Rio merampasnya kembali. Dia menaruh dalam
saku jaketnya.
“
Jangan menyiksaku lagi! Kembalikan hapeku!” teriakku tertahan. Mendadak
Rio mendekapku lalu menutup mulutku dengan tangannya. Aku beruhaha
melepaskan diri.
“
Ini bandara. Apa kamu ingin kita jadi pusat perhatian orang-orang?
Sadarlah kamu itu bukan anak kecil lagi. Apa kita harus bertengkar
seperti anak kecil. Pikirmu aku tidak terluka? Jernihkan pikiranmu
sekarang. Nanti di Jakarta kita bahas tentang rencana kita ke depan.”
Aku
akhirnya memperhatikan sekeliling. Benar saja, orang-orang sedang
memperhatikan kami. Perlahan Rio melepaskan dekapannya. Aku juga tidak
lagi berkeras meminta hape kembali. Aku pasrah kini apapun yang akan
terjadi. Kehilangan Rio dan Evan dalam waktu bersamaan mungkin saja
terjadi. Tapi tak ada pilihan bagiku selain mengikuti kata-kata Rio.
**
Papa dan mama menatap kami dengan marah. Terutama mama karena tahu alasan perpisahan kami adalah kesalahanku.
“
Febi, kamu sadar sayang? Kamu udah 8 tahun berpacaran dengan Rio, mana
mungkin hanya pertemuan beberapa minggu dengan anak buahmu kamu jadi
berpaling. Tenangkan diri, pikiran dengan baik. Mungkin kamu hanya
terbawa perasaan di lokasi.”
Suara
mama bergetar menasehatiku. Papa disebelahnya ikut membenarkan.
Sementara Rio hanya menunduk. Sejak mengucapkan kata-kata kami akan
berpisah, Rio tak bersuara lagi. Dia menyerahkan semua ke papa dan mama.
“
Maafkan Febi, ma, pa. Tapi perasaan Febi saat ini seperti itu. Febi
tidak ingin menyakiti hati papa dan mama juga Rio, tapi
kenyataannya..Febi gak bisa melupakan Evan.” Aku menangis. Percuma
menyimpan rasa saat ini. Lebih baik papa dan mama tahu perasaaanku yang
sebenarnya.
Rio
menatapku tajam sebelum menunduk lagi. Namun dari tangannya yang
mengepal aku tahu dia sangat marah. Maafkan aku Rio, aku juga tidak
menduga rasa padamu bisa lenyap seiiring kehadiran Evan di sisiku.
Mungkin ini garis takdir kita. Aku juga tidak pernah merencanakan untuk
berpaling dari hatimu.
Papa
kulihat siap untuk berbicara. Aku pasrah dengan keputusan papa dan
mama. Aku hanya ingin mereka tahu perasaanku. Menyimpannya sama saja
dengan menunggu kehancuran rumah tanggaku. Apa jadinya rumah tangga kami
jika bayangan Evan selalu hadir dan bermain dalam ingatanku?
“
Nak Rio, maafkan papa dan mama. Biar masalah ini kamu selesaikan dulu,
ya. Tenangkan hatimu. Kami sangat menyesal dengan kejadian ini. Semoga
nak Rio masih sudi untuk tetap menikahi Febi meski dengan kesalahan yang
telah dia lakukan..”
Ucapan papa membuatku terhenyak.
“ Papa, Febi belum mau menikah..” protesku. Mata papa memerah.
“
Sekarang kamu masuk ke kamar. Bukan saat mu untuk berbicara. Sebagai
orang tuamu, papa malu karena tidak bisa menjaga anak gadis papa
sendiri. Masuk sekarang!” hardik papa. Aku berlari masuk ke kamarku.
Seumur hidup baru kali ini aku mendengar suara papa memakiku, Sangat
menyakitkan hati.
Aku
menangis dalam kamar. Merasa tak ada seorangpun yang memahami membuatku
terluka. Aku tersadar kalau hape ku masih disimpan Rio. Bergegas aku
keluar kamar. Aku berlari saat kulihat Rio sedang melangkah menuju
taksi. Ku lewati papa dan mama yang berdiri di teras.
“ Rio!” panggilku. Rio berbalik.
“ Hapeku.” Kataku. Rio merogoh saku jaketnya.
“ Benarkah tidak tersisa cinta dihatimu untukku sama sekali?” Rio menyerahkan hape.
Aku terdiam. Meski pahit aku terpaksa mengangguk.
“
Benar. Maafkan aku. Percuma meminta mama dan papa untuk menyelesaikan
masalah kita. Aku harus jujur sebelum kita menikah dan sama-sama
kecewa.”
Rio menghela nafas.
“ Baiklah, aku tahu keputusan apa yang kamu inginkan. Aku pergi dulu.”
Kupandangi
taksi yang membawa Rio dengan rasa penasaran akan ucapannya sebelum
berlalu. Apa maksudnya tahu keinginananku, pikirku bingung. Mungkin Rio
akan melepaskan aku dan merelakan pernikahan kami batal. Semoga saja
demikian, pintaku.
Saat
kembali ke dalam rumah mama dan papa tak menegurku. Aku tahu mereka
marah. Aku terus masuk ke dalam kamar dan menyalakan hape. Sayang sekali
ketika aku mencoba menghubungi, hape Evan tidak aktif. Makin malam aku
makin gelisah karena hape Evan tidak juga aktif.
Aku akhirnya menelpon Salim dan jawaban yang aku dapatkan membuatku makin sedih. Salim mengatakan kalau
Evan ijin istrahat dulu dari lokasi. Dia ingin pulang untuk menjenguk
orang tuanya di kampung. Aku tahu itu bukan alasan yang sebenarnya. Aku
yakin Evan tidak akan membeberkan perasaannya pada Salim.
***
Dua
hari berada di rumah namun aku hanya mengurung diri dalam kamar.
Rasanya malas untuk keluar bahkan untuk makan sekalipun. Mbok Mina yang
rajin mengantar makanan dan minuman ke kamarku. Dari beliau juga aku
tahu kalau papa dan mama sudah berbicara dengan kedua orang tua Rio.
Namun hasil pembicaraan itu belum jelas.
Benar saja malamnya, papa dan mama memanggilku. Di ruang tengah aku pasrah menerima keputusan mereka.
“
Orang tua Rio sudah menelpon papa. Cuma anehnya mereka meminta maaf
karena harus memutuskan pertunangan kalian. Mereka minta maaf atas nama
Rio karena sudah menyakiti hati keluarga kita. Sekarang kamu bisa lihat
sendiri kan, Febi. Bagaimana baiknya nak Rio itu. Bahkan kesalahanmu
rela dia tutupi dan mengaku jika dia yang melakukan kesalahan. Padahal
jelas-jelas kita tahu kamu yang telah berpaling. Kamu masih berharap nak Rio berkorban apalagi?”
Aku
tak menjawab. Dalam hati aku membenarkan ucapan papa. Rio terlalu baik
jika mengingat akulah yang telah melukai hatinya. Dalam keadaan
tersakiti, dia masih menjaga nama baikku dalam keluarganya.
“
Meski hubungan kalian telah berakhir, tapi papa dan mama masih berharap
jika suatu saat kamu menyadari kekeliruanmu, kamu akan kembali pada nak
Rio. Papa yakin, nak Rio akan menerimamu melihat kebaikannya sekarang
ini. Wajar jika kamu melakukan kesalahan. Mungkin saat ini kamu belum
tahu, namun seiring berjalannya waktu, banyak hal yang akan jadi pelajaran. Sekarang keputusan ada padamu. Masih tetap ingin bersama nak Rio atau ingin bersama Evan. Papa hanya ingin kamu bahagia.”
Ucapan
papa membuatku lega. Aku tidak ingin membenarkan tindakanku saat ini
namun aku juga tidak ingin menganggap ini sebuah kesalahan yang nanti
akan aku sesali. Sekarang adalah sebuah kesempatan. Setidaknya aku sudah
mengambil keputusan yang sesuai dengan hatiku. Jika suatu saat aku
menyesal, maka itu adalah resiko yang harus aku ambil.
***
Akhirnya
aku kembali bergabung dengan Salim dan teman-teman di lapangan. Rasa
gembira kurasakan saat menginjak kaki di bandara. Perjalanan panjang
menggunakan bus tak lagi aku rasakan. Bayangan lokasi kerja dan senyum
Evan membias di mataku. Ternyata rasa yang hadir bukan semata rasa
sesaat. Rasa itu hadir bahkan ketika aku bersama Rio. Aku tidak ingin
kehilangan Evan meski dalam mimpi.
Tiba
di penginapan tak seorangpun teman yang ada. Rupanya mereka masih
berada di lokasi. Jantungku berdebar kencang saat melihat kamar Evan.
Kerinduan untuk segera bertemu dengannya tak lagi dapat aku tahan.
Menunggunya kembali terasa sangat lama. Jam yang berulangkali
kuperhatikan seolah berhenti tak bergerak.
Aku
melompat dari tempat tidur saat kudengar suara motor memasuki halaman
penginapan. Kuintip lewat jendela, nampak Evan memarkir motornya. Debar
jantungku makin kencang. Aku segera membuka pintu kamar, memandangnya
melangkah menuju kamar. Evan yang berjalan membelakangiku tidak
melihatku.
“
Evan!” panggilku penuh rasa rindu. Langkah Evan terhenti namun dia
tidak segera berbalik. Agak ragu dia membalikkan badannya. Saat dia
benar-benar telah membalikkan tubuhnya menghadapku, senyumnya mengembang
sambil menatapku. Tatapannya seolah tak percaya.
“ Mbak Febi!” teriaknya lalu berlari mendekatiku.
“
Kapan datang? Kenapa tidak mengirim kabar kalau akan kembali?” Aku tak
kuasa menjawab pertanyaannya. Genggaman tangannya yang hangat membuatku
ingin menangis.
“ Aku kangen sama kamu.” Hanya itu yang mampu aku ucapkan. Airmataku menetes. Evan mengusap air mataku.
“
Saya juga, mbak. Mbak jangan khawatir. Saat mbak pergi tanpa pesan,
saya yakin mbak telah memilih saya bukan mas Rio.” Aku menatapnya heran.
“ Darimana kamu tahu?”
“
Saya yakin mbak pergi bukan karena takut dengan mas Rio. Mbak pergi
untuk menyelamatkan saya. Iya, kan? Karena kalau tetap di sini akan
timbul masalah, dan itu tidak baik untuk saya. Mbak pasti sudah
memikirkan matang-matang, tidak mungkin mbak takut kehilangan pekerjaan.
Kehilangan mas Rio saja mbak sanggup, pasti ada susuatu yang memaksa
mbak untuk pergi. Apa saya tterlalu percaya diri jika merasa mbak pergi
karena memilih saya?”
Rasa
gembira, sedih dan terharu menyatu dalam hatiku hingga aku hanya bisa
mengangguk sambil tersenyum dengan airmata yang membasahi pipi.
“ Kamu benar..”
Tiba-tiba Evan menarik tanganku.
“ Ikut saya sayang, saya ingin menikmati sore ini berdua saja denganmu.” Ajaknya.
Kali ini aku melihat tatapan Evan sangat bahagia. Caranya memanggilku kini berbeda. Tak lagi ada kata mbak sebagai
pelengkap namaku. Kami berkeliling menikmati keindahan laut di sore
hari. Selintas membayang wajah Rio namun bayangan Evan kembali hadir,
kini dia tak tergantikan. Semoga, harapku. **
TAMAT


0 komentar:
Posting Komentar