Rio muncul di kamarku dengan aroma tubuh yang wangi. Aku menatapnya. Mungkin tatapanku terlihat aneh hingga dia tersenyum geli.
“
Kamu seperti orang yang belum tidur, sayang. Benar ya?” aku mengangguk
lesu. Kubaringkan lagi tubuhku setelah sebelumnya aku bangun untuk
membuka pintu.
“
Bentar lagi aku berangkat. Jangan suka begadang. Terlalu serius bekerja
kamu malah nggak tidur semalaman.” Rio duduk di sampingku. Apakah dia
tahu saat ini pikiranku benar-benar kacau? Bagaimana seandainya dia tahu
aku tidak tidur karena memikirkan dia dan Evan? Haruskah aku
memberitahu beban yang sedang menyelimuti hatiku?
Pesan sms masuk di hapeku. Dari Evan. Segera kubaca.
Dewi menanti jawabanku. Saya menanti jawaban mbak. SEKARANG!
Aku terlonjak kaget. Rio yang melihatku lebih heran lagi.
“
Ada apa, sayang? Ada masalah?” aku menggeleng sambil menatapnya pilu.
Batinku tak kuasa mengucapkan kata-kata yang akan menyakitkan Rio, tapi
aku juga tak sanggup jika harus kehilangan Evan. Aku tak sanggup
menahannya. Yang aku tahu, perasaanku pada Evan berbeda ketika pertama
kali aku menjalin hubungan dengan Rio. Mungkin ini cinta sesaat. Tapi
bagaimana jika itu adalah rasa hatiku yang sesungguhnya. Akankah aku
sanggup bertahan menjalani hidup dengan Rio?
“ Aku..aku…aku…minta maaf..” kataku akhirnya dengan terbata-bata. Rio terlihat bingung.
“ Minta maaf? Kamu salah apa hingga harus minta maaf?” aku menangis. Kututup wajahku dengan ke dua tanganku.
“
Aku..aku…merasa…aku..mencintai orang lain, bukan dirimu.” Akhirnya
beban yang menekan perasaanku telah keluar. Aku merasa lega. Airmataku
kian deras mengalir. Kulihat Rio terdiam. Dia menggeser posisi duduknya
agak menjauh dariku. Kunanti dengan cemas apa yang akan dia katakan.
Beberapa saat dia hanya menghela nafas. Tak berbicara membuatku
khawatir.
“ Aku..aku…minta maaf tidak bisa menikah denganmu.” Lanjutku tanpa menunggu dia berbicara.
“
Inikah alasanmu menunda pernikahan kita? karena sudah ada orang lain
yang mengisi hatimu selain aku? Jadi siapa dia yang ternyata lebih baik
dari aku? Apa dia Evan?” suara Rio bergetar. Kurasa dia sedang menahan
amarahnya. Aku mengangguk.
“
Kalau aku memintamu untuk ikut pulang sekarang. Bagaimana?” aku
tersentak kaget. Permintaan yang tidak masuk akal. Bagaimana aku harus
ikut Rio pulang ke Jakarta dan meninggalkan tugasku disini?
“ Aku tidak bisa.”
“ Tidak bisa karena pekerjaan atau karena dia?!?” Nada suara Rio meninggi.
“ Karena pekerjaan.”
“ Bohong! Pasti karena dia kan hingga kamu berat meninggalkan tempat ini?”
Rio mulai emosi. Tangisku terhenti karena takut melihat amarahnya.
“
Kamu hanya akan melihat dua kenyataan jika menolak ikut
denganku.Mendengar kabarku yang sudah wafat di Jakarta atau mengantar
jenasahku pulang ke Jakarta. Itukan yang kamu mau? Kalau tidak, kamu
pasti tidak akan berani bermain hati dengan dia. Aku tidak akan
berbicara lagi. Kutunggu di luar. Kemasi barang-barangmu dan kita
berangkat sekarang!”
Suara
Rio terdengar tegas. Dia beranjak keluar tanpa sedikitpun menoleh
melihatku. Suara pintu yang dibanting dengan keras membuatku ketakutan.
Kata-katanya sebelum keluar seperti ultimatum yang harus aku laksanakan.
Aku gemetar saat mendengar ancamannya. Benarkah dia akan bunuh diri?
Apakah kenyataan itu yang nanti akan terjadi jika aku menolak ikut
dengannya? Aku bergidik ngeri. Bagaimana seandainya itu benar terjadi?
Semua orang pasti menyalahkan aku sebagai penyebabnya.
Tapi
bagaimana dengan pekerjaanku disini? Bukankah tugasku belum selesai.
Bagaimana aku harus menjelaskan kepada pimpinan di Jakarta. Sungguh
tidak profesional karena aku mencampur adukkan antara pekerjaan dan
urusuan pribadi. Apa tanggapan Pak Lesmana nanti? Apakah dia akan
mengerti dan memahami kesulitanku? Aku makin panik.
Bayangan
wajah Evan melintas berkelebat dalam pandanganku. Wajah Rio yang marah
mengikuti. Aku nyaris limbung saat berusaha untuk berdiri. Tenaga
kurasakan habis hingga tak sanggup untuk mengemasi pakaianku. Aku
terduduk di lantai. Tubuhku lunglai bersandar di tempat tidur.Kali ini
air mataku kembali menetes.
“
Evan, maafkan aku. Maafkan aku.” Gumamku pedih. Rio memang tidak marah
secara berlebihan tapi ancamannya membuatku takut. Kalau aku menolak
mungkin akan terjadi hal yang lebih mengerikan. Rio akan bunuh diri sementara Evan bisa juga terkena imbas dari perbuatanku. Dia mungkin akan di pecat dari pekerjaannya.
Mengingat
Evan membuat tenagaku pulih. Aku tidak ingin dia mendapat masalah
karena perbuatanku. Rio bisa saja melakukan hal-hal gila jika semua
sudah diluar kesadarannya. Kukemasi pakaianku. Setelah mencuci muka aku
berganti pakaian dengan cepat. Aku berdandan seperti biasa agar tak ada
yang curiga. Sudah kusiapkan alasan agar Salim yang menggantikanku untuk
sementara karena aku harus menyelesaikan masalahku dengan Rio.
Aku
menarik nafas beberapa kali sebelum membuka pintu. Kulihat Rio duduk di
teras menghadap ke kamarku. Saat melihatku keluar dia segera berbalik
menghadap ke jalan raya. Sambil berjalan menuju kamar Salim
aku berharap bertemu dengan Evan. Aku ingin memberi pesan terakhir.
Tapi sepertinya Evan tidak keluar kamar. Hingga aku masuk ke kamar
Salim, Evan tidak juga terlihat.
“
Aku titip teman-teman, ya mas Salim. Ada masalah keluarga di Jakarta
yang harus aku selesaikan. “ Salim kaget saat mendengar ucapanku.
“ Jadi kapan mbak Febi bisa kembali ke sini? Kalau tidak bisa balik, maka harus ada pengganti mbak.”
“
Sabarlah. Nanti aku yang akan membicarakan itu dengan pimpinan di
Jakarta. Kalau memang tidak bisa, aku titip semua laporan ini ke mas
Salim. Tolong mas Salim pelajari. Antisipasi jika tak ada orang yang
bisa menganggantikan aku disini. Kalau ada hal yang tidak mas Salim
mengerti. Jangan sungkan untuk menelpon.”
Kutinggalkan
kamar Salim dengan menahan kepedihan. Airmataku nyaris menetes
seandainya aku tidak buru-buru pergi. Kupandangi kamar Evan yang tidak
juga terbuka. Aku tidak mungkin mengetuknya. Rio bisa melihatku dan
amarahnya bisa meledak. Langkahku pelan menuju teras. Tak ada
teman-teman. Seperti biasa, mereka sibuk membenahi laporan. Hari masih
pagi. Baru juga jam tujuh. Wajar jika mereka masih diam di dalam kamar.
“
Kita berangkat sekarang.” Ucap Rio. Dia meraih ranselku lalu melangkah
menuju pinggir jalan untuk menahan angkot. Jika dalam keadaan normal,
maka bus akan menjemput di penginapan. Tapi karena Rio sedang emosi,
dia tidak ingin lebih lama lagi berada di penginapan. Aku tahu, dia
ingin menghindari pertemuan antara aku dengan Evan.
Hape
ku berbunyi pesan sms lagi. Kali ini Rio menatapku tajam. Sepertinya
dia sudah curiga itu adalah pesan dari Evan. Dan benar, pesan itu dari
Evan.
“
Dari dia? Bolehkan aku minta kamu jangan membacanya? Setidaknya hargai
aku sebagai tunanganmu kalau kamu tidak ingin menganggap aku sebagai
calon suamimu.”
“ Apakah membaca sms juga tidak boleh?” kataku kesal.
“
Asal bukan dari dia, Aku tidak akan melarangmu. Sudah jelas diantara
kalian ada hubungan khusus. Wajar jika aku tidak ingin ada pesan apapun
dari dia yang masuk ke hape mu.”
Aku
akhirnya mematikan handphoneku. Aku bahkan belum sempat membaca sms
dari Evan. Angkot menuju perwakilan bus sudah tiba di depan kami. Saat
angkot melaju kupandangi penginapan dengan hati pilu. Terutama karena
Evan tak tahu tentang kepergianku. Memikirkannya membuat hatiku serasa
seperti teriris belati. Sakit sekali. Kupalingkan wajahku menghadap
jendela saat kurasakan mataku mulai berkaca-kaca. Aku tidak ingin Rio
melihatnya.
( bersambung )
0 komentar:
Posting Komentar