Kehadiran mas Idham sedikit banyak memberi angin
segar dalam kehidupan kami bertiga. Suasana rumah yang menurut kami
seram, sedikit terhapus dengan kehadirannya. Siang ini kami tengah
membuka data-data yang telah kami kumpulkan dari tiap-tiap desa ketika
terdengar suara mobil mas Idham memasuki halaman. Jen mengintip lewat
jendela.Terlihat jelas kalau Jen tidak bisa menyembunyikan
ketertarikannya. Dia buru-buru membaca laporannya saat langkah kaki mas
Idham hampir mendekati pintu.
” Assalamu Alaikum” sapa mas Idham sambil tersenyum.
Kami membalas sapaannya. Mas Idham lalu membuka sepatu dan duduk di
depan kami. Kami bertiga duduk di lantai karena ukuran kaki meja yang
pendek.
” Kalian belum sosialisasi ya?” tanyanya lalu mengambil kertas yang ada diatas meja.
” Belum mas, ini lagi dipersiapkan. Rencananya besok
baru nyebar undangan. Sejak minggu lalu kami sudah kordinasi dengan
kelurahan. Jadi hari ini tinggal di mantapkan saja.”
” Baguslah. Saya lama di kantor kelurahan. Pak lurah banyak cerita juga tentang kalian.”
Aku menghentikan kegiatan menulisku. Setahuku lelaki
tidak suka bergosip. Kenapa pak lurah malah membicarakan kami dengan
seseorang yang baru saja dia temui?
” Cerita apa, mas? Mudah-mudahan cerita yang
baik-baik” mas Idham tersenyum. Dia meletakkan kembali kertas yang tadi
dipegangnya.
” Katanya kalian wanita yang sangat berani” Aku
tercenung beberapa detik. Setelah itu pandanganku berpapasan dengan Jen
yang juga tengah menatapku.
” Berani bagaimana, mas?”
” Iya. Kalian pemberani karena berani tinggal dirumah
ini. Biasanya tiap kali ada yang ditempatkan di rumah ini. Baru sehari
sudah minta pindah”
Aku makin penasaran dengan kata-kata mas Idham.
” Pindah? Mereka pindah karena apa, mas?”
” Karena rumah ini angker. Tapi kalian sanggup bertahan. Makanya pak lurah salut dengan keberanian kalian”
Aku terkejut sekaligus ingin tertawa. Angker? Berarti
pak lurah tahu kalau rumah ini angker. Aku bahkan sungkan membicarakan
tentang keangkeran rumah ini karena takut menyinggung perasaan pak lurah
tapi ternyata pak lurah sendiri yang bercerita. Kami berani? Andai pak
lurah tahu kami bahkan sudah berniat pindah seandainya mas Idham tidak
datang tadi pagi. Aku tersenyum tipis. Mataku dan mata kedua temanku
saling mengirim sinyal rahasia. Kami saling tahu apa maknanya. Masih
untung kami tidak tertawa lepas karena merasa lucu dengan kata-kata pak
lurah.
” Jadi benar rumah ini angker ya, mas?” tanya Jen. Mas Idham mengangguk.
” Menurut pak lurah begitu”
” Angkernya seperti apa?” kulihat Niar mencolek
pinggang Jen saat Jen bertanya. Mungkin dia gemes karena pertanyaan Jen
semakin membuatnya takut.
” Katanya suka ada yang tertawa malam hari, suka ada
yang menjerit, bahkan ada suara -suara menakutkan seperti pintu tertutup
atau suara - suara aneh yang lain”
” Mas Idham tidak takut?” Jen terlihat begitu
khawatir. Aku tahu dia bukan khawatir tentang angkernya, dia khawatir
kalau mas Idham tidak jadi tinggal bersama kami karena mendengar cerita
dari pak lurah.
” Kalian saja tidak takut, kenapa saya harus takut?”
terlihat kelegaaan di wajah Jen. Temanku ini benar-benar fall in love.
Aku melanjutkan menulisku. Mas Idham berdiri.
” Saya permisi mau sholat dulu”
” Iya mas, silahkan” kataku.
Kami bertiga memandangi mas Idham hingga dia masuk ke
kamarnya. Saat mas Idham tidak ada, kami tertawa tanpa suara. Terutama
Jen karena dia tahu persis, dialah yang ingin secepatnya pindah dari
rumah ini. Tapi sekarang malah dia yang berat hati untuk meninggalkan
rumah ini. Cinta telah membuatnya melupakan rasa takutnya.
-0-0-0-
Selesai makan malam. Kami duduk-duduk di ruang tamu.
Kami merasa ruang tamu tidak lagi angker karena ada mas Idham bersama
kami. Aku memeriksa kembali nama-nama yang akan kami undang untuk
sosialisasi. Semua yang kami undang berdasarkan arahan dari pihak
kelurahan. Jen terlihat sibuk menyusun bahan tulisan untuk sosialisasi.
Sedangkan Niar walau matanya sibuk mencocok kan data tapi tetap saja
tangannya tidak lepas dari handphone.
” Kamu nggak bisa beritahu dia kalau kamu lagi sibuk,
Niar?” tanyaku. Aku hanya merasa khawatir dia tidak konsentrasi
mengerjakan tugasnya karena matanya silih berganti memandang tiga objek.
Handphone, laptop dan buku yang ada didepannya. Niar mengangkat
kepalanya menatapku.
” Kalo nggak di balas dia ngamuk”
” Hah? Segitunya? Apa dia nggak tahu kamu kesini bukan untuk refresing? Kamu kerja”
” Habis aku takut diputusin, susah cari cowok ganteng kayak dia” aku menghela nafas.
” Terserah kamu saja. Hanya kamu harus lebih hati-hati. Jangan salah mengupdate data”
Aku baru selesai berbicara saat mas Idham keluar dari kamar.
” Sini, mas. Duduk di sini, ngobrol dengan kita”
panggil Jen. Mas Idham mendekati kami. Tapi pandangan Jen langsung
berubah saat mas Idham justru duduk di kursi di belakang Niar. Matanya
terus menatap tanpa henti. Mas Idham tak menyadari sesuatu tengah
bergolak, dia malah asyik memperhatikan laptop Niar. Padahal didepan Jen
juga ada laptop.
” Kalian bertiga tim yang kompak. Di kantor, nama kalian sering di bicarakan”
” Betul, mas?” Jen terlihat antusias.
” Tim yang yang lain sering gonta-ganti. Tapi kalian tetap saja, tidak ada perubahan dari dulu”
” Capek mas, kalau ada yang baru harus pengenalan lagi.” kataku.
” Apa kalian tidak ingin memasukkan laki-laki dalam
tim kalian. Kadang lokasi tidak cocok untuk perempuan. Kalau seperti itu
yang cowok bisa menggantikan kalian” Selesai berkata mas Idham
memperhatikan Niar yang tertawa. Tawanya kecil tapi getaran tubuhnya
terlihat jelas. Mas Idham mengintip dari belakang Niar. Niar terkejut.
Refleks dia berbalik. Nyaris saja pipi Niar dan bibir mas Idham
bersentuhan. Kulihat wajah Jen yang cemberut. Dia berdiri lalu melangkah
masuk ke kamarnya. Aku tahu pasti dia cemburu.
Sementara adegan didepanku tidak juga berubah.
” Asyik sekali dengan handphonenya, ada yang lucu?”
tanya mas Idham dengan nada lembut. Mungkin dia penasaran, sejak tadi
Niar sama sekali tidak peduli dengan sekitar hanya asyik dengan
handphonenya.
” Nggak mas, hanya sms lucu” jawab Niar tak menyadari
seorang temannya tengah di bakar api cemburu. Bukan salah Niar. Dia
memang kadang tulalit. Saat tulalitnya kambuh, maka orang-orang
sekitarnya yang harus mengerti. Aku mulai menyadari sesuatu. Ini baru
hari pertama. Bagaimana dengan hari-hari selanjutnya? Apakah sikap mas
Idham memang seperti ini ataukah dia tengah mengepakkan sayap-sayap
cintanya ke arah Niar? Akan ada perang saudara kalau seperti ini. Belum
kelar dengan urusan rumah angker, sekarang bertambah lagi beban dalam
kepalaku. Bagaimana kalau sekiranya dua temanku memiliki rasa yang sama
pada mas Idham? ****
Bersambung….
0 komentar:
Posting Komentar