Mas Idham menatapku. Dia seperti menanti jawaban lewat tatapan matanya. Aku menghindar. Kualihkan pandanganku pada Jen.
“ Jen, ada mas Idham” Kataku. Jen langsung berbalik karena kaget. Kami bertiga salah tingkah. Mas Idham menatap kami.
“
Kenapa kalian ada di sini? Maaf, ini memang rumah kalian tapi kamar ini
sejak dua hari yang lalu saya tempati. Tidak seharusnya kalian masuk
dan memeriksa tanpa sepengetahuan saya. Sekarang mohon kalian keluar”
tanpa menunggu aba-aba kami segera keluar dari kamar mas Idham. Mas
Idham kemudian menutup pintu. Kutarik tangan kedua temanku masuk ke
dalam kamar.
“ Bagaimana? Kita telpon polisi sekarang?” Niar sudah sangat cemas. Wajahnya terlihat pucat.
“
Jangan dulu. Bagaimana kalau mas Idham tahu trus dia kabur?” aku tak
menanggapi kata-kata temanku. Aku justru khawatir mas Idham mendengar
kata-kata Jen tadi. Bagaimana kalau mas Idham benar-benar mendengarnya?
“ Hastin? Kamu dengar nggak?” Jen mengibaskan tangannya ke wajahku. Aku tergagap.
“
Biarkan saja mas Idham pergi. Kita jangan ikut campur. Kalaupun dia
ditangkap setidaknya bukan karena kita” kataku. Kedua temanku menatap
tak percaya.
“
Kamu kenapa? Pesan polisi itukan sudah jelas. Kita harus menelpon
mereka kalau kita bertemu mas Idham atau kalau mas Idham kembali ke
rumah ini”
“ Tapi polisi itu tidak tahu kita bertemu atau mas Idham kembali kalau bukan kita yang memberitahu.” Niar terlihat bingung.
“ Kamu mau kita jadi korban, tin? Bagaimana kalau mas Idham berbuat jahat terhadap kita?”
Kami
bertiga serentak berbalik begitu terdengar suara pintu menutup. Aku
berlari keluar dari kamar. Jen dan Niar menyusul dibelakangku. Kubuka
pintu kamar mas Idham.Kosong. Barang-barangnya sudah tidak ada. Aku
segera berlari menuju jendela. Kusingkap tirai jendela. Nampak mas Idham
sedang memasukkan tasnya kedalam mobil. Terburu-buru dia masuk ke dalam
mobil. Mobil itu kemudin melaju meninggalkan halaman. Aku
menatap tak percaya. Benarkah mas Idham pergi dengan cara seperti ini?
Pergi tanpa pamit? Tapi aku lega. Setidaknya aku tidak perlu melaporkan
mas Idham. Mulutku rasanya terkunci tiap kali membayangkan harus
menelpon polisi. Aku tidak siap menerima tatapan dari mas Idham saat
mengetahui kalau aku yang memberitahukan keberadaannya. Jen
berlari keteras. Pandangan matanya terlihat sedih. Mungkin dia sadar,
ini terakhir kali dia bisa melihat mas Idham.
“ Benarkah dia sudah pergi?” gumamnya. Aku hanya memegang lengannya.
“
Sudahlah Jen. Sekarang kita aman. Kita tidak perlu cemas lagi. Ingat,
pertama kali kita juga cuma bertiga. Ada mas Idham atau tidak, itu sama
saja. Toh dia juga tidak selamanya bersama kita. Suatu saat dia pasti
pergi” aku berusaha membujuk Jen yang terlihat sedih. Niar juga memegang
lengan Jen. Dia tidak berbicara hanya menepuk-nepuk bahu Jen. Kebiasaan
Niar memang seperti itu. Dia tidak bisa berbicara saat melihat orang
sedih. Biasanya dia langsung merangkul untuk menenangkan. Siang yang
kelabu. Walau lega tapi kami juga tidak bisa menepiskan perasaan Jen.
Dia sedih kehilangan seseorang yang baru dia kenal. Cinta yang harus
mati sebelum berkembang.
*****
Dua
hari sudah kepergian mas Idham. Sejak siang itu kami tidak tahu lagi
kabar tentangnya. Kami bukan melupakannya tapi karena kami sedang sibuk
mempersiapkan pekerjaan kami juga. Pagi yang sibuk. Hari ini kami akan
mengadakan sosialisasi tingkat kelurahan Sejak pagi kami sudah
mempersiapkan diri. Rencananya sosialisasi akan di mulai pukul sembilan
pagi. Saat masuk ke kamar mataku menatap Jen yang sudah kelihatan rapi.
Disampingnya berdiri Niar yang masih sibuk berdandan. Mereka berdua
menghadap ke cermin. Ada yang lain dari penampilan Jen. Aku mendekati
mereka.
Jen berbalik. Dia bergaya bak seorang model.
“
Gimana, cantikkan?” aku mengangguk cepat. Penampilan Jen memang
berbeda. Biasanya kami berpakaian bebas tapi sekarang kami berpakaian
resmi. Memakai celana kulot dan kemeja putih. Supaya terlihat lebih
keren kami mengenakan blaser. Kalau aku dan Niar mengenakan celana kulot
maka Jen sebaliknya. Dia memakai rok sebatas lutut. Aku sudah
membayangkan bagaimana wajah orang-orang dalam pertemuan nanti. Seperti
kegiatan sebelumnya, setiap habis pertemuan pasti ada yang mengejar Jen.
“ Apa kamu tidak ingin memakai celana kain saja, Jen. Biar kita terlihat kompak” aku menyarankan. Jen memandangku.
“ Kenapa? Toh setiap pertemuan aku selalu pakai rok” Niar tertawa.
“
Apa kamu lupa kejadian setiap kali habis pertemuan? Selalu ada yang
mengejarmu. Kamu siap menolak mereka? Kita hanya akan sibuk mengurusi
orang-orang itu bukan mengurusi pekerjaan kita”
“ Tapi kan itu masalah
mereka.Yang penting aku tidak menanggapi” jawaban Jen membuat aku dan
Niar saling pandang. Tidak ada gunanya membujuk Jen. Dia tetap
bersikeras memakai rok. Kami bertiga meninggalkan rumah dengan semangat.
Akhirnya proses kedua akan kami lewati. Setelah sosialisasi maka kami
akan bertambah sibuk. Seperti kegiatan sebelumnya. Tapi kami gembira.
Menjalani hari-hari dengan penuh kesibukan. Waktu tak terasa terlewati.
Seperti
yang sudah aku duga. Begitu tiba di kantor kelurahan puluhan mata
menatap kami. Terutama Jen. Jen yang mengenakan rok makin memperlihatkan
betisnya yang sangat indah. Betis putih mulus dengan bentuk yang
sempurna. Mudah-mudahan kami selamat setelah acara ini, doaku.
Masuk
dalam ruangan kami bertemu dengan utusan dari kantor pusat. Pak
Suhendar. Beliau menginap di hotel. Sejak semalam pak Suhendar terus
menghubungi kami untuk menanyakan tentang sosialisasi yang
kami adakan.Senyum pak Suhendar menyambut kami. Beliau mengulurkan
tangan untuk berjabat tangan.
“
Gimana? Sehat-sehat semua? Sudah siap dengan kegiatan baru?” tegurnya.
Aku menelan ludah. Pak Suhendar memang cakep. Usianya masih muda.
Mungkin seumuran mas Idham. Dia selalu saja terlihat mempesona.
Mengenakan kemeja ungu dia terlihat menawan. Setiap kali kami
sosialisasi, pasti Pak Suhendar yang menjadi wakil dari perusahaan. Ada
desiran aneh dihatiku tiap kali bertemu dengan Pak Suhendar. Tapi tiap
kali aku merasakan desiran itu, aku akan langsung memalingkan wajah. Aku
tidak ingin degup jantungku terbaca di wajahku. Aku tidak ingin
sepanjang acara terus merasakan perasaan aneh. Tapi tetap saja aku harus berjuang karena Pak
Suhendar duduk di sebelahku. Aku mendapat tugas sebagai wakil dari
kedua temanku untuk mengenalkan tim kami. Sedangkan Jen bertugas sebagai
pembawa acara. Adapun Niar mendapat tugas memotret kegiatan kami dan membuat dokumentasi kegiatan. Dia nanti yang akan mengatur laporan kami ke kantor pusat.
Acara di mulai. Jen sejak tadi sudah berdiri di depan mikropon. Posisinya yang ada didepan membuat
kepala orang-orang yang hadir sedikit berubah arah. Aku tersenyum dalam
hati. Ini pasti karena pesona wajah dan betis Jen. Tapi yang jadi
magnet adalah betis Jen. Aku saling pandang dengan Niar yang tengah
asyik memotret Jen. Niar masih sempat mengirim kode ke arahku. Semua
kepala tetap melihat ke arah Jen. Bahkan saat Pak Lurah memberikan
sambutan. Benar-benar pengaruh Jen luar biasa. Jen, Jen akukan sudah
sarankan kamu pakai celana kain saja, batinku.*****
Bersambung….
0 komentar:
Posting Komentar